Mengenal Cheng Beng, Tradisi Bakar Uang Arwah Etnis Tionghoa

Kamboja.co.id
5 min readFeb 29, 2024

--

Mengenal Cheng Beng, Tradisi Bakar Uang Arwah Etnis Tionghoa

Tionghoa merupakan salah satu etnis di Indonesia dengan beragam tradisi yang masih bertahan sampai sekarang. Hal tersebut terlihat dari banyaknya perayaan budaya setiap tahunnya, baik itu festival maupun ritual yang juga populer di kalangan masyarakat umum. Salah satu tradisinya yang cukup penting adalah Cheng Beng.

Tradisi tersebut merujuk pada kegiatan membakar uang di pemakaman. Mari simak artikel ini untuk mengetahui apa saja perlengkapan dan bagaimana cara melakukan ritual pembakaran Tionghoa.

Pengertian Cheng Beng dan Sejarahnya

Cheng Beng atau yang dalam bahasa Mandarin adalah 清明节 (qīng míng jié) memiliki makna hari ziarah kuburan, hari semua arwah, atau festival bersih terang. Tradisi ini dilakukan saat pada 10 hari sebelum dan sesudah tanggal 4 atau 5 April berdasarkan kalender lunar.

Menurut kepercayaannya, pada hari itu pintu surga dan pintu neraka dibuka dan para arwah bisa kembali ke bumi. Di balik kemewahannya, perayaan ini bertujuan untuk menghormati leluhur dan mewariskan tradisi Tionghoa secara turun temurun. Serta untuk mempererat ikatan keluarga.

Jika menilik dari sejarahnya, asal-usul tradisi ziarah kubur ini dimulai sejak kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368–1644 M). Berawal dari dari keluarganya yang dulu sangat miskin, dalam proses membesarkannya orang tua Zhu Yuan Zhang meminta bantuan kepada sebuah kuil.

Setelah dewasa, Zhu Yuan Zhang memilih bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, kelompok anti Dinasti Yuan (Mongol). Berkat kecakapannya, ia bisa menaklukan Dinasti Yuan (1271–1368 M) dan menjadi seorang kaisar.

Setelahnya, Zhu Yuan Zhang kembali ke tempat asalnya untuk menjumpai orang tuanya. Namun, orang tuanya ternyata telah meninggal dunia tanpa ia mengetahui keberadaan makamnya. Demi mengetahuinya, Zhu Yuan Zhang mengutus seluruh rakyatnya untuk berziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing.

Setelah semua rakyat melakukan kunjungan makam, kaisar mencari makam yang belum belum memiliki penanda dan berasumsi itu adalah makam orang tua dan leluhurnya. Kaisar pun secara rutin menziarahi makam-makam tersebut dan kemudian menjadikannya sebuah tradisi yang menjadi acara setiap tahunnya.

Namun, ada pula yang mengatakan bahwa tradisi ini tercipta di Dinasti Tang (tahun 732). Di mana Kaisar Xuanzong ingin menggantikan upacara pemujaan nenek moyang yang sangat rumit dan mahal. Jadi, pemujaan nenek moyang cukup dengan mengunjungi makamnya saja.

Berbagai Jenis Perlengkapan Ritual Cheng Beng

Sebagai pengabdian keturunan Tionghoa yang masih hidup kepada yang sudah meninggal, perayaannya tentu membutuhkan beberapa perlengkapan. Berikut adalah barang dan peralatan yang harus ada!

1. Membawa Peralatan Bersih-Bersih

Salah satu rangkaian dalam tradisi ini adalah membersihkan makam. Peralatan sendiri bisa berupa sapu lidi, sarung tangan, dan alat pencabut rumput. Biasanya, ada yang membersihkan makam sebulan sebelum perayaan atau di hari H. Beberapa juga akan melakukan perbaikan untuk makam yang rusak, pecah, atau luntur.

2. Menyiapkan Makanan Persembahan

Menu makanan dan minuman persembahan dalam tradisi Cheng Beng yang beragam. Mulai dari nasi, lauk pauk, buah-buahan, kue, arak, daging babi, dan masih banyak lagi. Persembahan ini biasanya berdasarkan makanan kesukaan para leluhur.

3. Perlengkapan Ritual

Selain makanan persembahan, ada beberapa perlengkapan lain untuk melakukan sembahyang dan ritual. Contohnya seperti lilin (lak cek) sebagai lambang penerangan. Menurut kepercayaan, cahaya tersebut akan menerangi roh leluhur di akhirat.

Ada juga uang kertas sembahyang (kim ci), tempat dupa (hiolo), dan dupa (hio). Hal-hal tersebut memiliki fungsi pemanggil arwah dan simbol ketenangan arwah leluhur di alam baka.

4. Barang-Barang Duplikasi

Salah satu hal paling penting dalam ritual ini adalah duplikasi barang-barang kebutuhan hidup sebagai persembahan pada arwah leluhur. Barang-barang ini biasanya menyerupai harta kekayaan di dunia, seperti rumah, mobil, TV, baju, dam sepatu.

Selain itu, ada juga uang akhirat, yaitu uang emas (kim cua) dan uang perak (gin cua) untuk dipersembahkan dengan cara dibakar. Para keturunan Tionghoa percaya bahwa kehidupan akhirat tidak ada bedanya dengan kehidupan di dunia. Jadi, berbagai persembahan ini bisa memenuhi kebutuhan para arwah di akhirat.

Cara Melakukan Ritual Cheng Beng

Ziarah pada perayaan Cheng Beng dimulai dengan membersihkan makam saat dini hari menjelang subuh sebagai bakti keturunan terhadap leluhurnya. Keluarga akan datang bersama anak cucu untuk mengenang mendiang dan mewariskan tradisi. Setelah itu, prosesnya akan dilanjutkan dengan menyusun lilin (lak cek).

Lilin yang sudah tersusun rapi harus tetap menyala selama proses sembahyang terjadi. Selanjutnya adalah menyusun berbagai macam sesaji berupa makanan dan minuman. Peletakannya ada di belakang lilin, serta berjajar berdasarkan jenisnya dan menyesuaikan bentuk makam.

Tatanan pada makam akan mencerminkan bagaimana indahnya rumah leluhur di akhirat. Oleh karena itu, keturunan Tionghoa memiliki kepercayaan bahwa, menghias makam adalah sebuah wujud kasih sayang sehingga mereka akan mempersembahkan yang terbaik.

Proses selanjutnya adalah sembahyang, di mana masing-masing anggota kelurga menghadap thusin dengan menyalakan dupa dan memenjatkan doa untuk keselamatan dan ketenangan arwah. Cara penghormatan sendiri adalah dengan membungkukkan badan sebanyak tiga kali dan meletakkan dupa pada hiolo.

Anggota keluarga akan melakukan hal tersebut secara berurutan, dari anggota yang paling tua sampai ke anggota keluarga paling muda. Setelah sembahyang, keluarga melakukan ritual persembahan. Di mana mereka akan mempersembahkan barang-barang duplikasi dan uang akhirat dengan membakarnya.

Tradisi ini akan ditutup dengan berpamitan di depan makam. Masing-masing anggota keluarga akan bergantian memanjatkan doa dan memberitahu bahwa mereka telah melaksanakan kewajibannya.

Sudah Memahami Apa itu Cheng Beng?

Ritual Cheng Beng adalah bentuk upaya mewariskan budaya pada setiap generasi dengan berkumpul dan berdoa bersama. Bagi keturunan Tionghoa tradisi pemakaman ini diwariskan untuk mengisyaratkan bahwa mereka berasal dari leluhur yang sama dan memberi bakti kepada leluhur dipercaya dapat mendatangkan keberkahan.

Pada dasarnya, setiap keluarga pasti ingin mempersembahkan peristirahatan terakhir yang nyaman dan terbaik bagi keluarga yang meninggal. Karena itu, agar proses pemakaman dan kebutuhan kedukaan terpenuhi secara maksimal, Anda bisa menggunakan jasa pemakaman dari Kamboja.

Terutama pada pemakaman agama Budha yang memiliki rangkaian prosesi dan persembahan yang cukup banyak dan tidak sembarangan. Sebab, Kamboja akan memberikan pelayanan lengkap dan terpercaya. Sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak akan terbebani dan fokus menangani emosi dan rasa dukanya.

Anda dapat menghubungi kontak Kamboja untuk berdiskusi dengan salah satu tim Kamboja dan dapatkan informasi penting lainnya.

FAQ

Apa tujuan melakukan Cheng Beng?

Ritual ini bertujuan untuk mengenang dan sebagai bentuk penghormatan pada para leluhur yang telah meninggal.

Apa saja yang perlengkapan saat ritual Cheng Beng?

Perlengkapan Cheng Beng adalah berbagai macam jamuan makanan serta minuman kesukaan leluhur. Serta peralatan seperti dupa (hiolo), dupa (hio), lilin, uang akhirat, kertas warna (go sek cua), dan barang-barang persembahan.

Kapan ritual Cheng Beng orang Tionghoa lakukan?

Cheng Beng berlangsung setahun sekali dan puncaknya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April, atau pada awal bulan Maret dalam kalender Lunar.

Apa makna perlengkapan yang dibakar saat ritual Cheng Beng?

Persembahan Kertas sembahyang (kim ci), uang akhirat, dan barang-barang duplikasi yang dibakar adalah untuk memenuhi kebutuhan arwah leluhur di akhirat.

--

--

Kamboja.co.id
0 Followers

Kamboja.co.id didirikan untuk membantu mereka ditengah kedukaan. Melayani jasa pemakaman lengkap dan terintegrasi di area DKI Jakarta, BoDeTaBek dan sekitarnya.